Makalah ekologi perairan
MAKALAH
MENEJEMEN KUALITAS AIR
OLEH :
NAMA : ROY BAKARI
NIM : 633414023
JURUSAN : MSP (A)

UNIVERSITAS
NEGERI GORONTALO
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN
MENEJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
KATA
PENGANTAR
puji syukur
kami panjatkan kehadiran tuhan Yang Maha Esa atas rahmatnya sehingga penyusunan
makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini merupakan salah satu
tugas dalam mata kuliah EKOLOGI PERAIRAN
.Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
dosen pengajar. atas arahan yang diberikan guna menyelesaikan mata kuliah ini
dengan sebaik- baiknya, dan rekan ± rekan mahasiswa perikanan jurusan msp
yang memberikan berbagai masukan dan informasi yang sangat membantu dalam
penyempurnaan penulisan makalah ini.Akhirnya, semoga informasi yang
terkandung dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, terutama
mereka yang membutuhkannya.
Gorontalo, november 2015
Roy Bakari
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah
pembesaran berkaitan erat dengan pertumbuhan. Pertumbuhan didefinisikan sebagai
pertumbuhan ukuran baik bobot maupun panjang dalam satu periode waktu tertentu.
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang
meliputi genetik dan kondisi fisiologis ikan, serta faktor eksternal yang
berhubungan dengan lingkungan. Faktor eksternal tersebut yaitu komposisi
kualitas kimia dan fisika air, bahan buangan metabolik, ketersediaan pakan, dan
gangguan penyakit.
Kualitas lingkungan perairan adalah suatu kelayakan
lingkungan perairan untuk menunjang kehidupan dan pertumbuhan organisme air yang
nilainya dinyatakan dalam suatu kisaran tertentu. Sementara itu, perairan ideal
adalah perairan yang dapat mendukung kehidupan organisme dalam menyelesaikan
daur hidupnya.
Parameter fisik dalam kualitas air merupakan parameter
yang bersifat fisik, dalam arti dapat dideteksi oleh panca indera manusia yaitu
melalui visual, penciuman, peraba dan perasa. Perubahan warna dan peningkatan
kekeruhan air dapat diketahui secara visual, sedangkan penciuman dapat
mendeteksi adanya perubahan bau pada air, dan peraba pada kulit dapat
membedakan suhu air, selanjutnya rasa tawar, asin dan lain sebagainya dapat
dideteksi oleh lidah (indera perasa). Hasil indikasi dari panca indera ini
hanya dapat dijadikan indikasi awal karena bersifat subjektif, bila diperlukan
untuk menentukan kondisi tertentu, misal kualitas air tersebut telah menurun
atau tidak harus dilakukan analisis pemeriksaan air di laboratorium dengan
metode analisis yang telah ditentukan. Parameter kimia sendiri didefinisikan
sebagai sekumpulan bahan atau zat kimia yang keberadaannya dalam air
mempengaruhi kualitas air. Selanjutnya secara keseluruhan parameter biologi
mampu memberikan indikasi apakah kualitas air pada suatu perairan masih baik
atau kurang baik, hal ini dinyatakan dalam jumlah dan jenis biota perairan yang
masih dapat hidup dalam perairan.
Beberapa faktor kualitas air seperti oksigen terlarut,
suhu, dan ammonia dapat menyebabkan kematian pada ikan. Lainnya, seperti pH,
alkalinitas, kekerasan dan kecerahan mempengaruhi ikan, tetapi biasanya ikan
tidak sampai mengalami kematian. Setiap faktor kualitas air berinteraksi dan
saling berpengaruh terhadap parameter lain. Pada situasi tertentu reaksi antar
parameter akan menyebabkan racun pada air dan dapat mematikan. Sehingga sangat
penting adanya monitoring kualitas air secara intensif selama masa pemeliharaan
dari sistim produksi budidaya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian manajemen kualitas air
Manajemen dalam bahasa inggris “to
manage” diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu mengurus, mengemudikan,
mengelolah, menjalankan, mengatur, dan memimpin. Sedangkan dalam bahasa latin
“mantis” yang berarti tangan, dan “agree” yang berarti melakukan, dan digabung
“managere” artinya menangani. Jadi manajemen kualitas air adalah suatu proses
dimana seorang pembudidaya melakukan pengaturan/pengelolaan agar perairan
tersebut layak dilakukan budidaya.
1. Kualitas air
Kualitas pada air sangatlah penting
diperhatikan, karena air yang bersih sangat mempengaruhi pertumbuhan ikan yang
akan dibudidayakan, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. sumber air bukan berasal dari sungai yang digunakan
untuk membuang limbah industri. Limbah industri yang sering mengandung zat-zat
yang beracun yang dapat mematjkan ikan. Walaupun tidak mematikan, ikan yang
bdipelihara akibat ikan yang dipelihara akan membawa akibat buruk bagi konsumen
yang memakannya karma bahan kimia yang masih mengendap ditubuh ikan.
b. Sumber air bukan berasal dari comberan karma air
comberan umumnya mengandung kuman-kuman penyakit yang dapat menyerang ikan.
c. Sumber air belum terpolusi oleh bahan-bahan yang
berbahaya
Temperature air berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangabn ikan. Temperature air yang tidak cocok, misalnya
terlalu tinggfi atau terlalu rendah, dapat menyebabkan ikan tidak dapat tumbuh
dan berkembang dengan baik. Temperature air yang cocok untuk pertumbuhan ikan
adalah berkisar anara 150C-300C dan perbedaan suhu antara
siang dan malam kurang dari 50C. perubahan suhu yang mendadak
berpengaruh buruk pada kehidupan ikan (Rusdi 2001).
2.2 Konsep
pengelolaan kualitas air
pengelolaan kualitas air di suatu perairan dimaksudkan untuk meningkatkan
dan mempertahankan kualitas air agar layak bagi kehidupan organisme yang
dibudidayakan. Salah satunya adalah
konsep pengelolaan kualitas air tambak.
Kegiatan pengelolaan kualitas air
tambak pada dasarnya berupa program kegiatan yang mengarahkan perairan tambak
pada keseimbangan ekosistem perairan dalam suatu petakan terbatas agar tercipta
suatu kondisi perairan yang menyerupai habitat alami udang baik dari segi
sifat, behaviour maupun secara ekologinya. Penerapan program pengelolaan
kualitas air tambak membutuhkan kemampuan teknis budidaya yang memadai dari
para pelakunya melalui metode yang digunakan dengan beberapa aspek yang perlu
dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam penerapannya, yaitu antara lain :
1.
Metode yang
digunakan harus mengacu pada tujuan pengelolaan air tambak. Secara garis besar
tujuan dari kegiatan ini terbagi dalam 3 kelompok yaitu : (a) Menjaga atau mempertahankan kualitas air
yang sudah sesuai dengan tolok ukur berlaku berdasarkan pengamatan lapangan
maupun teori;
(b) Memperbaiki kualitas perairan yang kurang sesuai ke arah yang
lebih baik;
(c) Mengganti perairan tambak yang dapat membahayakan bagi udang
dengan perairan yang baru untuk menciptakan lingkungan perairan yang lebih
sesuai dengan kondisi dan kualitas udang.
2. Metode yang
digunakan harus tepat sasaran sesuai dengan parameter yang akan dikelola yaitu
kecerahan air, warna air tambak, kondisi fisik air tambak dan kondisi dasar
tambak. Parameter tersebut membutuhkan pendekatan metode tersendiri yang tetap
mengacu pada keterkaitan satu sama lain.
3.
Metode yang
digunakan harus dapat menyentuh akar permasalahan kualitas air yang sebenarnya.
Permasalahan kualitas air tambak dapat terjadi antara lain karena :
(a)
Faktor internal tambak, yaitu permasalahan yang terjadi karena
terganggunya salah satu unsur penyusun ekosistem perairan tambak;
(b)
Faktor
eksternal tambak, yaitu permasalahan yang diakibatkan oleh adanya
pengaruh dari luar tambak seperti perubahan cuaca yang menyebabkan kestabilan
perairan terguncang;
(c)
Faktor treatment error yaitu permasalahan yang terjadi
akibat kesalahan perlakuan teknis budidaya
Dasar pertimbangan seperti yang
telah diuraikan di atas bertujuan agar penerapan metode yang digunakan dalam
pengelolaan kualitas air tambak dapat berjalan efektif dan efisien baik secara
teknis budidaya maupun perhitungan finansial. Beberapa metode yang biasa
digunakan dalam pengelolaan kualitas air tambak antara lain :
1. Sirkulasi
air
- Pemupukan air
- Inokulasi air, dan
- Penggunaan bahan kimia dan obat-obatan (tidak direkomendasikan).
Metode tersebut di atas dalam
penerapannya tidak dapat berdiri sendiri dan mempunyai keterkaitan satu sama
lain tergantung pada tingkat urgency dan skala prioritas dari perlakuan teknis
budidaya yang akan diberikan berdasarkan pengamatan dan identifikasi keperluan
yang ditemukan di lapangan. Metode pengelolaan kualitas air tambak yang
dilakukan secara terpisah akan mengakibatkan keseimbangan ekosistem perairan
tersebut terganggu sehingga dapat menyebabkan suatu permasalahan yang baru yang
lebih kompleks.
2.3 Parameter-parameter baku mutu
Baku mutu
air adalah ukuran atau kadar makhluk hidup, zat energi, atau komponen yang ada
atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam
air.
Untuk menjaga agar air berada dalam
kondisi yang sesuai dengan peruntukannya maka Pemerintah telah menerbitkan
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tanggal 14 Desember 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Ada beberapa parameter baku mutu
untuk mengetahui kualitas air, diantaranya: :
I. Parameter Kimia
I. Parameter Kimia
a.
DO
(Dissolved Oxygen)
Yang dimaksud dengan DO adalah
oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, berasal dari udara dan hasil
proses fotosintesis tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua mahluk yang
hidup di air seperti ikan, udang, kerang dan hewan lainnya termasuk
mikroorganisme seperti bakteri. Agar ikan dapat hidup, air harus mengandung
oksigen paling sedikit 5 mg/ liter atau 5 ppm (part per million). Apabila kadar
oksigen kurang dari 5 ppm, ikan akan mati, tetapi bakteri yang kebutuhan
oksigen terlarutnya lebih rendah dari 5 ppm akan berkembang.
b. BOD (Biochemical Oxygent Demand)
BOD adalah suatu analisa empiris
yang mencoba mendekati secara global proses mikrobiologis yang benar -benar
terjadi dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran
akibat air buangan dan untuk mendesain sistem pengolahan secara biologis.
Dengan tes BOD kita akan mengetahui kebutuhan oksigen biokima yang menunjukkan
jumlah oksigen yang digunakan dalam reaksi oksidasi oleh bakteri. Sehingga
makin banyak bahan organik dalam air, makin besar B.O.D nya sedangkan D.O akan
makin rendah. Air yang bersih adalah yang B.O.D nya kurang dari 1 mg/l atau
1ppm, jika B.O.D nya di atas 4 ppm, air dikatakan tercemar.
c. COD (Chemical Oxygent Demand)
COD adalah jumlah oksigen (mg O2)
yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam 1 liter
sampel air, dimana pengoksidasi K2,Cr2,O7 digunakan sebagai sumber oksigen.
Pengujian COD pada air limbah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan
pengujian BOD yaitu : Sanggup menguji air limbah industri yang beracun yang
tidak dapat diuji dengan BOD karena bakteri akan mati dan waktu pengujian yang
lebih singkat, kurang lebih hanya 3 jam.
d. TSS (Total suspended Solid)
TSS adalah jumlah berat dalam
mg/liter kering lumpur yang ada dalam limbah setelah mengalami penyaringan
dengan membran berukuran 0,45 mikron. Air alam mengandung zat padat terlarut
yang berasal dari mineral dan garam-garam yang terlarut ketika air mengalir di
bawah atau di permukaan tanah. Apabila air dicemari oleh limbah yang berasal
dari industri, pertambangan dan pertanian, kandungan zat padat tersebut akan
meningkat. Jumlah zat padat terlarut ini dapat digunakan sebagai indikator
terjadinya pencemaran air. Selain jumlah, jenis zat pencemar juga menentukan
tingkat pencemaran dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan
air .
e. pH
pH adalah drajat keasaman suatu zat.
pH normal adalah 6-8. Tujuan metode pengujian ini untuk memperoleh drajat
keasaman (pH) dalam air dan air limbah dengan menggunakan alat pH meter.
f. Total organik karbon (TOC) , Total Carbon (TC),
Inorganic Carbon (IC)
TOC adalah jumlah karbon yang
terikat dalam suatu senyawa organik dan sering digunakan sebagai indikator
tidak spesifik dari kualitas air atau kebersihan peralatan pabrik. Total Carbon
(TC) – semua karbon dalam sample, Total Inorganic Carbon (TIC) – sering disebut
sebagai karbon anorganik (IC), karbonat, bikarbonat, dan terlarut karbon
dioksida (CO 2); suatu material yang berasal dari sumber non-hidup. Dalam
menganalisa TOC, TC, dan IC kita bisa menggunakan TOC analyzer.
g. Parameter Logam
Spektroskopi penyerapan atom adalah
teknik untuk menentukan konsentrasi elemen logam tertentu dalam sampel. Teknik
ini dapat digunakan untuk menganalisa konsentrasi lebih dari 70 jenis logam
yang berbeda dalam suatu larutan. beberapa logam yang berbahaya diantaranya :
Hg (merkuri) , Ar (arsen), Cd (kadmium), Pb (timbal)
II. Parameter Fisika
Perubahan yang ditimbulkan parameter
fisika dalam air limbah yaitu: padatan, kekeruhan, bau, temperatur, daya hantar
listrik dan warna. Padatan terdiri dari bahan padat organik maupun anorganik
yang larut, mengendap maupun suspensi. Akibat lain dari padatan ini menimbulkan
tumbuhnya tanaman air tertentu dan dapat menjadi racun bagi makhluk
lain.Pengukuran daya hantar listrik ini untuk melihat keseimbangan kimiawi
dalam air dan pengaruhnya terhadap kehidupan biota.Warna timbul akibat suatu
bahan terlarut atau tersuspensi dalam air, di samping adanya bahan pewarna
tertentu yang kemungkinan mengandung logam berat. Bau disebabkan karena adanya
campuran dari nitrogen, fospor, protein, sulfur, amoniak, hidrogen sulfida,
carbon disulfida dan zat organik lain.Temperatur air limbah akan mempengaruhi
kecepatan reaksi kimia serta tata kehidupan dalam air. Perubahan suhu
memperlihatkan aktivitas kimiawi biologis pada benda padat dan gas dalam air.
III. Parameter Biologi
Parameter biologi meliputi ada atau
tidaknya pencemaran secara biologi berupa mikroorganisme, misalnya, bakteri
coli, virus, bentos, dan plankton. jenis- jenis mikroorganisme di air yang
tercemar seperti : Escherichia coli, Entamoeba coli, dan Salmonella thyposa.
2.4 Limbah
Limbah
adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun
domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah
akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan
dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water). Limbah
padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendaki
kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara
kimiawi, limbah
ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengan
konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah
dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia,
sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah.
Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.
B. Pengolahan limbah
B. Pengolahan limbah
Beberapa faktor yang mempengaruhi
kualitas limbah
adalah volume limbah, kandungan bahan pencemar, dan frekuensi
pembuangan limbah. Untuk mengatasi Limbah ini diperlukan
pengolahan dan penanganan limbah. Pada dasarnya
pengolahan limbah
ini dapat dibedakan menjadi:
1. pengolahan menurut tingkatan
perlakuan
2. pengolahan menurut karakteristik limbah
Salah satu contoh pengolahan limbah
yaitu pengolahan air limbah domestik.
Contoh pengolahan air limbah domestik adalah dengan
menggunakan bak penangkap minyak dan lemak, bak pengendapan awal, bak aerasi,
bak pengendapan akhir, filtrasi dan desinfeksi. Meski demikian, sistem
pengolahan air bersih maupun air limbah domestik yang digunakan dalam hunian
dibangun dengan menyesuaikan keadaan setempat, seperti sinar matahari, suhu
yang tinggi di daerah tropis yang dapat dimanfaatkan.
Tujuan utama pengolahan air limbah
ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa
organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak
dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Pengolahan air
limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:
1.
Pengolahan
Awal (Pretreatment)
Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang
bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air
limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen
and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
2.
Pengolahan
Tahap Pertama (Primary Treatment)
Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih
memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada
proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama
ialah neutralization, chemical addition and coagulation, flotation,
sedimentation, dan filtration.
3.
Pengolahan
Tahap Kedua (Secondary Treatment)
Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan
zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses
fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini
ialah activated sludge, anaerobic lagoon, tricking filter,
aerated lagoon, stabilization basin, rotating biological
contactor, serta anaerobic contactor and filter.
4.
Pengolahan
Tahap Ketiga (Tertiary Treatment)
Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air
limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration,
carbon adsorption, ion exchange, membrane separation,
serta thickening gravity or flotation.
5.
Pengolahan
Lumpur (Sludge Treatment)
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap
pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or
wet combustion, pressure filtration, vacuum filtration, centrifugation,
lagooning or drying bed, incineration, atau landfill
2.5 Hubungan
antara manajemen kualitas air dan tingkat pertumbuhan hidup manusia.
Pertumbuhan penduduk yang semakin
tinggi akan mempengaruhi kualitas air. Aktivitas manusia yang semakin banyak
akan menimbulkan peningkatan konsumsi dan dengan sendirinya volume, jenis, dan
karakteristik limbah yang dihasilkan juga akan semakin banyak. Limbah yang
dihasilkan sering dibuang langsung ke lingkungan tanpa pengolahan terlebih
dahulu. Bila hal ini terus dilakukan dan jumlah limbah terakumulasi di
lingkungan maka akan terjadi pencemaran lingkungan dan penurunan kualitas
lingkungan. Semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk maka aktivitas penduduk
semakin tinggi sehingga memicu timbulnya pencemaran lingkungan.
Penurunan kualitas perairan juga
dipengaruhi oleh lingkungan sosial berupa kepadatan penduduk yang menimbulkan
limbah rumah tangga, limbah pertanian, limbah peternakan, atau pun limbah
industri. Seiring dengan berkembangnya aktivitas masyarakat yang tinggal di
sekitar sungai atau danau, akan berpengaruh terhadap kualitas air karena limbah
yang dihasilkan dari aktivitas masyarakat akan dibuang secara langsung maupun
tidak langsung ke badan air.
Tekanan terhadap lingkungan perairan berdasarkan
variasi jumlah penduduk dikaitkan dengan intensitas kegiatannya sehari-hari dan
perilaku yang telah berlangsung akan mempengaruhi jumlah limbah domestik yang
diproduksi dan dibuang ke lingkungan perairan sehingga menurunkan kualitas perairan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Air
mempunyai fungsi untuk menunjang kehidupan di dalamnya. Dari segi biologi, air
merupakan media yang baik untuk kegiatan biologis dalam pembentukan dan
penguraian bahan-bahan organik. Kualitas air dikatakan baik apabila air
tersebut memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. Manajemen kualitas air adalah
suatu usaha untuk menjaga kondisi air tetap dalam kondisi baik untuk budiday
ikan dengan memperhatikan factor fisika, kimia, dan biologinya. Beberapa
parameter kualitas air antara lain :
·
Fisika:
Suhu, Cahaya, Kecerahan, Warna air, Kekeruhan, Padatan tersuspensi.
·
Kimia: pH,
DO (oksigen terlarut), amonia, dan nitrogen.
·
Biologi:
plankton dan bakteri.
3.2 Saran
Untuk
mencegah agar tidak terjadi pencemaran air oleh limbah sebaiknya dilakukan
pemeliharaan dan pengelolaan kualitas air berdasarkan manajemen kualitas air
tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
http://kualitas air _ ErlitaAngkasanaWati.html
http://makalah limbah.html
http://Manajemen kualitas air.html
http://Isna's Blog
MAKALAH LIMBAH.html
http://PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN
LIMBAH CAIR _ Ardan Samman - Academia.edu.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar