Faktor pembatas
lingkungan perairan dan pengaruhnya terhadap organisme
1. SUHU
v Pengaruh Suhu Air terhadap Ekosistem
Perairan
Salah satu faktor fisik lingkungan perairan adalah suhu. Permukaan air peka
terhadap perubahan suhu, perubahan suhu dipengaruhi oleh letak geografisnya,
ketinggian tempat, lama paparan terhadap matahari dan kedalaman badan air
(Tunas. 2005;16, 18).
Kenaikan suhu air akan dapat menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut
(Kanisius. 2005; 22-23):
a. Jumlah
oksigen terlarut di dalam air menurun.
b. Kecepatan
reaksi kimia meningkat
c. Kehidupan
ikan dan hewan air lainnya terganggu.
d. Jika
batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan
mati.
Selanjutnya menurut Munro (1978 dalam Tunas 2005; 18), Peningkatan suhu air
dapat menyebabkan penurunan kelarutan gas-gas, tetapi meningkatkan solubilitas
senyawa-senyawa toksik seperti polutan minyak mentah dan pestisida, serta
meningkatkan toksisitas logam berat, sebagai contoh bahwa pada air tawar (salinitas
0%) peningkatan suhu dari 25 menjadi 300C menyebabkan penurunan kelarutan
oksigen dari 8,4 menjadi 7,6 mg/liter.
v 2.5 Pengaruh Suhu Air terhadap
Respon Fisiologis dan Tingkah Laku Ikan
Ikan memiliki derajat toleransi terhadap suhu dengan kisaran tertentu yang
sangat berperan bagi pertumbuhan, inkubasi telur, konversi pakan dan resistensi
terhadap penyakit (Tunas. 2005;16). Selanjutkan Tunas menambahkan bahwa ikan
akan mengalami stres manakala terpapar pada suhu di luar kisaran yang dapat
ditoleransi.
Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan gangguan
status kesehatan untuk jangka panjang. Misalnya stres yang ditandai tubuh
lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal, sedangkan suhu rendah mengakibatkan
ikan menjadi rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat
melemahnya sistem imun (Tunas. 2005;16-17). Pada dasarnya suhu rendah
memungkinkan air mengandung oksigen lebih tingi, tetapi suhu rendah menyebabkan
stres pernafasan pada ikan berupa penurunan laju respirasi dan denyut jantung
sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen.
2.
Cahaya
matahari
Cahaya
di dalam laut sangat berpengaruh pada kehidupan biota laut, salah satunya
adalah zooplankton. Migrasi vertikal adalah migrasi yang dilakukan oleh
zooplankton tertentu ke arah dasar laut pada siang hari dank e arah permukaan
pada malam hari, itu lah yang dilakukan oleh zooplankton tertentu setiap
harinya. Jarak yang ditempuh zooplankton untuk migrasi ini sekitar 100-400
meter. Migrasi vertikal merupakan suatu fenomena universal yang dilakukan oleh
zooplankton tertentu. Cahaya adalah faktor utama yang menyebabkan zooplankton
melakukan migrasi vertikal karena cahaya memberikan respon negative bagi para
migran, mereka bergerak menjauhi permukaan laut jika intensitas cahaya di
permukaan laut meningkat dan sebaliknya bergerak menuju permukaan laut jika
intensitas cahaya di permukaan laut menurun. Jadi zooplankton tertentu akan
berada di dekat permukaan laut ketika malam hari dan mulai menjauhi permukaan
atau bergerak menuju kedalam laut saat mulai dini hari dan saat cahaya datang.
Dengan meningkatnya intensitas cahaya sepanjang pagi hari, zooplankton akan
bergerak kedalam dan menyesuaikan diri pada keadaan intensitas cahaya tertentu.
Ketika siang hari saat intensitas cahaya sangat meningkat pada permukaan laut,
zooplankton berada diposisi kedalaman yang paling jauh. Kemudian menjelang sore
hari zooplankton mulai bergerak keatas secara perlahan, dan saat matahari
terbenam meraka akan baerada di dekat permukaan laut sampai fajar terbit
kembali.
3.
Arus
Arus dapat mempengaruhi keberadaan dan distribusi
organisme di suatu habitat sedimen serta
mempengaruhi kebiasaan makan meiofauna. Kelimpahan beberapa 36 meiofauna secara
negatif dipengaruhi oleh arus.
4.
Kekeruhan
Siltasi
tidak hanya membahayakan ikan tetapi juga menyebabkan air tidak produktif
karena menghalangi masuknya sinar matahari untuk fotosintesa.
5.
pH
Air laut
mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk mencegah perubahan pH.
Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan petunjuk terganggunya
sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan ketidak seimbangan
kadar CO2 yang dapat membahayakan kehidupan biota laut. pH air laut
permukaan di Indonesia umumnya bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6.0 –
8,5. Perubahan pH dapat mempunyai akibat buruk terhadap kehidupan biota laut,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung adalah kematian
ikan, burayak, telur, dan lain-lainnya, serta mengurangi produktivitas primer.
Akibat tidak langsung adalah perubahan toksisitas zat-zat yang ada dalam air,
misalnya penurunan pH sebesar 1,5 dari nilai alami dapat memperbesar toksisitas
NiCN sampai 1000 kali.
6. Salinitas
Keanekaragaman
salinitas dalam air laut akan mempengaruhi jasad-jasad hidup akuatik melalui
pengendalian berat jenis dan keragaman tekanan osmotik. Jenis-jenis biota
perenang ditakdirkan untuk mempunyai hampir semua jaringan-jaringan lunak yang
berat jenisnya mendekati berat jenis air laut biasa, sedangkan jenis-jenis,
yang hidup di dasar laut (bentos) mempunyai berat jenis yang lebih tinggi
daripada air laut di atasnya.Salinitas menimbulkan tekanan-tekanan osmotik.
Pada umumnya kandungan garam dalam sel-sel biota laut cenderung mendekati
kandungan garam dalam kebanyakan air laut. Kalau sel-sel itu berada di
lingkungan dengan salinitas lain maka suatu mekanisme osmoregulasi diperlukan
untuk menjaga keseimbangan kepekatan antara sel dan lingkungannya. Pada
kebanyakan binatang estuarin penurunan salinitas permulaan biasanya dibarengi
dengan penurunan salinitas dalam sel, suatu mekanisme osmoregulasi baru terjadi
setelah ada penurunan salinitas yang nyata.
7. Kadar oksigen terlarut (O2)
O2
terlarut diperlukan oleh hampir semua bentuk kehidupan akuatik untuk proses
pembakaran dalam tubuh. Beberapa bakteria maupun beberapa binatang dapat hidup
tanpa O2 (anaerobik) sama sekali; lainnya dapat hidup dalam keadaan
anaerobik hanya sebentar tetapi memerlukan penyediaan O2 yang
berlimpah setiap kali. Kebanyakan dapat hidup dalam keadaan kandungan O2
yang rendah sekali tapi tak dapat hidup tanpa O2 sama sekali. Sumber
O2 terlarut dari perairan adalah udara di atasnya, proses
fotosintese dan glycogen dari binatang itu sendiri. Air yang tak ber - O2
selalu jarang terdapat disamudera. O2 dihasilkan oleh proses
fotosintesa dari binatang dan tumbuh-tumbuhan dan diperlukan bagi pernafasan. Menurunnya
kadar O2 terlarut dapat mengurangi efisiensi pengambilan O2
oleh biota laut, sehingga dapat menurunkan kemampuan biota tersebut untuk hidup
normal dalam ling-kungannya. Kadar O2 terlarut di perairan Indonesia
berkisar antara 4,5 dan 7.0 ppm.
8. Gelombang
Secara ekologis
gelombang paling penting di mintakat pasang surut. Di bagian yang agak dalam
pengaruhnya mengurang sampai ke dasar, dan di perairan oseanik ia mempengaruhi
pertukaran udara dan agak dalam. Gelombang ditimbulkan oleh angin, pasang-surut
dan kadang-kadang oleh gempa bumi dan gunung meletus (dinamakan tsunami).
Gelombang mempunyai sifat penghancur. Biota yang hidup di mintakat pasang surut
harus mempunyai daya tahan terhadap pukulan gelombang. Gelombang dengan mudah
menjebol alga-alga dari substratanya. Ia diduga juga mengubah bentuk karang-karang
pembentuk terumbu. Gelombang mencampur gas atmosfir ke dalam permukaan air sehingga
memulai proses pertukaran gas.
9. W
a r n a
Air laut berwarna karena proses alami, baik yang berasal dari proses
biologis maupun non-biologis. Produk dari proses biologis dapat berupa humus,
gambut dan lain-lain, sedangkan produk dari proses non-biologis dapat berupa
senyawa-senyawa kimia yang mengandung unsur Fe, Ni, Co, Mn, dan lain-lain.
Selain itu perubahan warna air laut dapat pula disebabkan oleh kegiatan manusia
yang menghasilkan limbah berwarna. Air laut dengan tingkat warna tertentu/dapat
mengurangi proses fotosintesa serta dapat menganggu kehidupan biota akuatik
terutama fitoplankton dan beberapa jenis bentos.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar