Kamis, 26 November 2015

MENEJEMEN KUALITAS AIR



Makalah ekologi perairan

MAKALAH
MENEJEMEN KUALITAS AIR

OLEH :
NAMA : ROY BAKARI
NIM : 633414023
JURUSAN : MSP (A)




UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN MENEJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN



KATA  PENGANTAR
 puji syukur kami panjatkan kehadiran tuhan Yang Maha Esa atas rahmatnya sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini merupakan salah satu tugas dalam mata kuliah EKOLOGI PERAIRAN
.Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengajar. atas arahan yang diberikan guna menyelesaikan mata kuliah ini dengan sebaik- baiknya, dan rekan ± rekan mahasiswa perikanan jurusan msp yang memberikan berbagai masukan dan informasi yang sangat membantu dalam penyempurnaan penulisan makalah ini.Akhirnya, semoga informasi yang terkandung dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, terutama mereka yang membutuhkannya.


Gorontalo, november 2015



                              Roy Bakari








BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah pembesaran berkaitan erat dengan pertumbuhan. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertumbuhan ukuran baik bobot maupun panjang dalam satu periode waktu tertentu. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang meliputi genetik dan kondisi fisiologis ikan, serta faktor eksternal yang berhubungan dengan lingkungan. Faktor eksternal tersebut yaitu komposisi kualitas kimia dan fisika air, bahan buangan metabolik, ketersediaan pakan, dan gangguan penyakit.
            Kualitas lingkungan perairan adalah suatu kelayakan lingkungan perairan untuk menunjang kehidupan dan pertumbuhan organisme air yang nilainya dinyatakan dalam suatu kisaran tertentu. Sementara itu, perairan ideal adalah perairan yang dapat mendukung kehidupan organisme dalam menyelesaikan daur hidupnya.
            Parameter fisik dalam kualitas air merupakan parameter yang bersifat fisik, dalam arti dapat dideteksi oleh panca indera manusia yaitu melalui visual, penciuman, peraba dan perasa. Perubahan warna dan peningkatan kekeruhan air dapat diketahui secara visual, sedangkan penciuman dapat mendeteksi adanya perubahan bau pada air, dan peraba pada kulit dapat membedakan suhu air, selanjutnya rasa tawar, asin dan lain sebagainya dapat dideteksi oleh lidah (indera perasa). Hasil indikasi dari panca indera ini hanya dapat dijadikan indikasi awal karena bersifat subjektif, bila diperlukan untuk menentukan kondisi tertentu, misal kualitas air tersebut telah menurun atau tidak harus dilakukan analisis pemeriksaan air di laboratorium dengan metode analisis yang telah ditentukan. Parameter kimia sendiri didefinisikan sebagai sekumpulan bahan atau zat kimia yang keberadaannya dalam air mempengaruhi kualitas air. Selanjutnya secara keseluruhan parameter biologi mampu memberikan indikasi apakah kualitas air pada suatu perairan masih baik atau kurang baik, hal ini dinyatakan dalam jumlah dan jenis biota perairan yang masih dapat hidup dalam perairan.
            Beberapa faktor kualitas air seperti oksigen terlarut, suhu, dan ammonia dapat menyebabkan kematian pada ikan. Lainnya, seperti pH, alkalinitas, kekerasan dan kecerahan mempengaruhi ikan, tetapi biasanya ikan tidak sampai mengalami kematian. Setiap faktor kualitas air berinteraksi dan saling berpengaruh terhadap parameter lain. Pada situasi tertentu reaksi antar parameter akan menyebabkan racun pada air dan dapat mematikan. Sehingga sangat penting adanya monitoring kualitas air secara intensif selama masa pemeliharaan dari sistim produksi budidaya.























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian manajemen kualitas air
Manajemen dalam bahasa inggris “to manage” diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu mengurus, mengemudikan, mengelolah, menjalankan, mengatur, dan memimpin. Sedangkan dalam bahasa latin “mantis” yang berarti tangan, dan “agree” yang berarti melakukan, dan digabung “managere” artinya menangani. Jadi manajemen kualitas air adalah suatu proses dimana seorang pembudidaya melakukan pengaturan/pengelolaan agar perairan tersebut layak dilakukan budidaya.
1.    Kualitas air                                                                     
Kualitas pada air sangatlah penting diperhatikan, karena air yang bersih sangat mempengaruhi pertumbuhan ikan yang akan dibudidayakan, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. sumber air bukan berasal dari sungai yang digunakan untuk membuang limbah industri. Limbah industri yang sering mengandung zat-zat yang beracun yang dapat mematjkan ikan. Walaupun tidak mematikan, ikan yang bdipelihara akibat ikan yang dipelihara akan membawa akibat buruk bagi konsumen yang memakannya karma bahan kimia yang masih mengendap ditubuh ikan.
b. Sumber air bukan berasal dari comberan karma air comberan umumnya mengandung kuman-kuman penyakit yang dapat menyerang ikan.
c. Sumber air belum terpolusi oleh bahan-bahan yang berbahaya
Temperature air berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangabn ikan. Temperature air yang tidak cocok, misalnya terlalu tinggfi atau terlalu rendah, dapat menyebabkan ikan tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Temperature air yang cocok untuk pertumbuhan ikan adalah berkisar anara 150C-300C dan perbedaan suhu antara siang dan malam kurang dari 50C. perubahan suhu yang mendadak berpengaruh buruk pada kehidupan ikan (Rusdi 2001).

2.2 Konsep pengelolaan kualitas air
pengelolaan kualitas air di suatu perairan dimaksudkan untuk meningkatkan dan mempertahankan kualitas air agar layak bagi kehidupan organisme yang dibudidayakan. Salah satunya adalah  konsep pengelolaan kualitas air tambak.
Kegiatan pengelolaan kualitas air tambak pada dasarnya berupa program kegiatan yang mengarahkan perairan tambak pada keseimbangan ekosistem perairan dalam suatu petakan terbatas agar tercipta suatu kondisi perairan yang menyerupai habitat alami udang baik dari segi sifat, behaviour maupun secara ekologinya. Penerapan program pengelolaan kualitas air tambak membutuhkan kemampuan teknis budidaya yang memadai dari para pelakunya melalui metode yang digunakan dengan beberapa aspek yang perlu dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam penerapannya, yaitu antara lain :
1.      Metode yang digunakan harus mengacu pada tujuan pengelolaan air tambak. Secara garis besar tujuan dari kegiatan ini terbagi dalam 3 kelompok yaitu : (a) Menjaga atau mempertahankan kualitas air yang sudah sesuai dengan tolok ukur berlaku berdasarkan pengamatan lapangan maupun teori;
(b) Memperbaiki kualitas perairan yang kurang sesuai ke arah yang lebih baik;
(c) Mengganti perairan tambak yang dapat membahayakan bagi udang dengan perairan yang baru untuk menciptakan lingkungan perairan yang lebih sesuai dengan kondisi dan kualitas udang.
2.      Metode yang digunakan harus tepat sasaran sesuai dengan parameter yang akan dikelola yaitu kecerahan air, warna air tambak, kondisi fisik air tambak dan kondisi dasar tambak. Parameter tersebut membutuhkan pendekatan metode tersendiri yang tetap mengacu pada keterkaitan satu sama lain.
3.      Metode yang digunakan harus dapat menyentuh akar permasalahan kualitas air yang sebenarnya. Permasalahan kualitas air tambak dapat terjadi antara lain karena :
(a)       Faktor internal tambak, yaitu permasalahan yang terjadi karena terganggunya salah satu unsur penyusun ekosistem perairan tambak;
(b)       Faktor eksternal tambak, yaitu permasalahan yang diakibatkan oleh adanya pengaruh dari luar tambak seperti perubahan cuaca yang menyebabkan kestabilan perairan terguncang;
(c)       Faktor treatment error yaitu permasalahan yang terjadi akibat kesalahan perlakuan teknis budidaya
Dasar pertimbangan seperti yang telah diuraikan di atas bertujuan agar penerapan metode yang digunakan dalam pengelolaan kualitas air tambak dapat berjalan efektif dan efisien baik secara teknis budidaya maupun perhitungan finansial. Beberapa metode yang biasa digunakan dalam pengelolaan kualitas air tambak antara lain :
1.      Sirkulasi air
  1. Pemupukan air
  2. Inokulasi air, dan
  3. Penggunaan bahan kimia dan obat-obatan (tidak direkomendasikan).
Metode tersebut di atas dalam penerapannya tidak dapat berdiri sendiri dan mempunyai keterkaitan satu sama lain tergantung pada tingkat urgency dan skala prioritas dari perlakuan teknis budidaya yang akan diberikan berdasarkan pengamatan dan identifikasi keperluan yang ditemukan di lapangan. Metode pengelolaan kualitas air tambak yang dilakukan secara terpisah akan mengakibatkan keseimbangan ekosistem perairan tersebut terganggu sehingga dapat menyebabkan suatu permasalahan yang baru yang lebih kompleks.

2.3 Parameter-parameter baku mutu
Baku mutu air adalah ukuran atau kadar makhluk hidup, zat energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air.  
Untuk menjaga agar air berada dalam kondisi yang sesuai dengan peruntukannya maka Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tanggal 14 Desember 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Ada beberapa parameter baku mutu untuk mengetahui kualitas air, diantaranya: :
I. Parameter Kimia
a.       DO (Dissolved Oxygen)
Yang dimaksud dengan DO adalah oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, berasal dari udara dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua mahluk yang hidup di air seperti ikan, udang, kerang dan hewan lainnya termasuk mikroorganisme seperti bakteri. Agar ikan dapat hidup, air harus mengandung oksigen paling sedikit 5 mg/ liter atau 5 ppm (part per million). Apabila kadar oksigen kurang dari 5 ppm, ikan akan mati, tetapi bakteri yang kebutuhan oksigen terlarutnya lebih rendah dari 5 ppm akan berkembang.

b. BOD (Biochemical Oxygent Demand)
BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses mikrobiologis yang benar -benar terjadi dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain sistem pengolahan secara biologis. Dengan tes BOD kita akan mengetahui kebutuhan oksigen biokima yang menunjukkan jumlah oksigen yang digunakan dalam reaksi oksidasi oleh bakteri. Sehingga makin banyak bahan organik dalam air, makin besar B.O.D nya sedangkan D.O akan makin rendah. Air yang bersih adalah yang B.O.D nya kurang dari 1 mg/l atau 1ppm, jika B.O.D nya di atas 4 ppm, air dikatakan tercemar.

c. COD (Chemical Oxygent Demand)
COD adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam 1 liter sampel air, dimana pengoksidasi K2,Cr2,O7 digunakan sebagai sumber oksigen. Pengujian COD pada air limbah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pengujian BOD yaitu : Sanggup menguji air limbah industri yang beracun yang tidak dapat diuji dengan BOD karena bakteri akan mati dan waktu pengujian yang lebih singkat, kurang lebih hanya 3 jam.

d. TSS (Total suspended Solid)
TSS adalah jumlah berat dalam mg/liter kering lumpur yang ada dalam limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron. Air alam mengandung zat padat terlarut yang berasal dari mineral dan garam-garam yang terlarut ketika air mengalir di bawah atau di permukaan tanah. Apabila air dicemari oleh limbah yang berasal dari industri, pertambangan dan pertanian, kandungan zat padat tersebut akan meningkat. Jumlah zat padat terlarut ini dapat digunakan sebagai indikator terjadinya pencemaran air. Selain jumlah, jenis zat pencemar juga menentukan tingkat pencemaran dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air .

e. pH
pH adalah drajat keasaman suatu zat. pH normal adalah 6-8. Tujuan metode pengujian ini untuk memperoleh drajat keasaman (pH) dalam air dan air limbah dengan menggunakan alat pH meter.

f. Total organik karbon (TOC) , Total Carbon (TC), Inorganic Carbon (IC)
TOC adalah jumlah karbon yang terikat dalam suatu senyawa organik dan sering digunakan sebagai indikator tidak spesifik dari kualitas air atau kebersihan peralatan pabrik. Total Carbon (TC) – semua karbon dalam sample, Total Inorganic Carbon (TIC) – sering disebut sebagai karbon anorganik (IC), karbonat, bikarbonat, dan terlarut karbon dioksida (CO 2); suatu material yang berasal dari sumber non-hidup. Dalam menganalisa TOC, TC, dan IC kita bisa menggunakan TOC analyzer.

g. Parameter Logam
Spektroskopi penyerapan atom adalah teknik untuk menentukan konsentrasi elemen logam tertentu dalam sampel. Teknik ini dapat digunakan untuk menganalisa konsentrasi lebih dari 70 jenis logam yang berbeda dalam suatu larutan. beberapa logam yang berbahaya diantaranya : Hg (merkuri) , Ar (arsen), Cd (kadmium), Pb (timbal)

II. Parameter Fisika
Perubahan yang ditimbulkan parameter fisika dalam air limbah yaitu: padatan, kekeruhan, bau, temperatur, daya hantar listrik dan warna. Padatan terdiri dari bahan padat organik maupun anorganik yang larut, mengendap maupun suspensi. Akibat lain dari padatan ini menimbulkan tumbuhnya tanaman air tertentu dan dapat menjadi racun bagi makhluk lain.Pengukuran daya hantar listrik ini untuk melihat keseimbangan kimiawi dalam air dan pengaruhnya terhadap kehidupan biota.Warna timbul akibat suatu bahan terlarut atau tersuspensi dalam air, di samping adanya bahan pewarna tertentu yang kemungkinan mengandung logam berat. Bau disebabkan karena adanya campuran dari nitrogen, fospor, protein, sulfur, amoniak, hidrogen sulfida, carbon disulfida dan zat organik lain.Temperatur air limbah akan mempengaruhi kecepatan reaksi kimia serta tata kehidupan dalam air. Perubahan suhu memperlihatkan aktivitas kimiawi biologis pada benda padat dan gas dalam air.

III. Parameter Biologi
Parameter biologi meliputi ada atau tidaknya pencemaran secara biologi berupa mikroorganisme, misalnya, bakteri coli, virus, bentos, dan plankton. jenis- jenis mikroorganisme di air yang tercemar seperti : Escherichia coli, Entamoeba coli, dan Salmonella thyposa.

2.4 Limbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water). Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.

B. Pengolahan limbah
Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah volume limbah, kandungan bahan pencemar, dan frekuensi pembuangan limbah. Untuk mengatasi Limbah ini diperlukan pengolahan dan penanganan limbah. Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat dibedakan menjadi:
1. pengolahan menurut tingkatan perlakuan
2. pengolahan menurut karakteristik limbah

Salah satu contoh pengolahan limbah yaitu pengolahan air limbah domestik.
Contoh pengolahan air limbah domestik adalah dengan menggunakan bak penangkap minyak dan lemak, bak pengendapan awal, bak aerasi, bak pengendapan akhir, filtrasi dan desinfeksi. Meski demikian, sistem pengolahan air bersih maupun air limbah domestik yang digunakan dalam hunian dibangun dengan menyesuaikan keadaan setempat, seperti sinar matahari, suhu yang tinggi di daerah tropis yang dapat dimanfaatkan.
Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Pengolahan air limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:
1.      Pengolahan Awal (Pretreatment)
Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
2.      Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)
Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization, chemical addition and coagulation, flotation, sedimentation, dan filtration.
3.      Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment)
Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated lagoon, stabilization basin, rotating biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.
4.      Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment)
Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange, membrane separation, serta thickening gravity or flotation.
5.      Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet combustion, pressure filtration, vacuum filtration, centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau landfill

2.5 Hubungan antara manajemen kualitas air dan tingkat pertumbuhan hidup manusia.
Pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi akan mempengaruhi kualitas air. Aktivitas manusia yang semakin banyak akan menimbulkan peningkatan konsumsi dan dengan sendirinya volume, jenis, dan karakteristik limbah yang dihasilkan juga akan semakin banyak. Limbah yang dihasilkan sering dibuang langsung ke lingkungan tanpa pengolahan terlebih dahulu. Bila hal ini terus dilakukan dan jumlah limbah terakumulasi di lingkungan maka akan terjadi pencemaran lingkungan dan penurunan kualitas lingkungan. Semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk maka aktivitas penduduk semakin tinggi sehingga memicu timbulnya pencemaran lingkungan.
Penurunan kualitas perairan juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial berupa kepadatan penduduk yang menimbulkan limbah rumah tangga, limbah pertanian, limbah peternakan, atau pun limbah industri. Seiring dengan berkembangnya aktivitas masyarakat yang tinggal di sekitar sungai atau danau, akan berpengaruh terhadap kualitas air karena limbah yang dihasilkan dari aktivitas masyarakat akan dibuang secara langsung maupun tidak langsung ke badan air.
 Tekanan terhadap lingkungan perairan berdasarkan variasi jumlah penduduk dikaitkan dengan intensitas kegiatannya sehari-hari dan perilaku yang telah berlangsung akan mempengaruhi jumlah limbah domestik yang diproduksi dan dibuang ke lingkungan perairan sehingga menurunkan kualitas perairan.

















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Air mempunyai fungsi untuk menunjang kehidupan di dalamnya. Dari segi biologi, air merupakan media yang baik untuk kegiatan biologis dalam pembentukan dan penguraian bahan-bahan organik. Kualitas air dikatakan baik apabila air tersebut memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. Manajemen kualitas air adalah suatu usaha untuk menjaga kondisi air tetap dalam kondisi baik untuk budiday ikan dengan memperhatikan factor fisika, kimia, dan biologinya. Beberapa parameter kualitas air antara lain :
·         Fisika: Suhu, Cahaya, Kecerahan, Warna air, Kekeruhan, Padatan tersuspensi.
·         Kimia: pH, DO (oksigen terlarut), amonia, dan nitrogen.
·         Biologi: plankton dan bakteri.

3.2  Saran
Untuk mencegah agar tidak terjadi pencemaran air oleh limbah sebaiknya dilakukan pemeliharaan dan pengelolaan kualitas air berdasarkan manajemen kualitas air tersebut.











  
DAFTAR PUSTAKA

http://kualitas air _ ErlitaAngkasanaWati.html
http://makalah limbah.html
http://Manajemen kualitas air.html
http://Isna's Blog  MAKALAH LIMBAH.html
http://PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN LIMBAH CAIR _ Ardan Samman - Academia.edu.html